A. Istilah Kontemporer
Secara spesifik musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungan sejarah musik Barat di Eropa dan Amerika. Namun walaupun demikian dapat mengacu terhadap pemahaman yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata seni maupun musik sama sekali tidak menunjukan pengertian definisi yang bersifat normatif. Itulah sebabnya bagi mereka yang awam, seni atau musik kontemporer banyak menimbulkan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Apa bila kehadiran budaya baru ini hendak ditransmisikan ke Indonesia sebagai salah satu transformasi budaya modern kita, maka dasar-dasar pijak dan posisinya cepat atau lambat harus ditegaskan. Kalau tidak demikian, maka fenomena budaya besar dunia itu hanya akan kita tangkap sebagai hobi, sebagaimana kita menangkap seni klasik modern dan sebagainya hingga saat ini.1
Perbedaan presepsi mengenai seni kontemporer tidak terjadi di Indonesia saja, di Barat pun demikian. Dalam soal musik, masalah ini lebih terasa. Misalnya, pada acara pembukaan pameran lukisan kontemporer, sering musik disajikan, tetapi musik semacam ini tidak bermakna, hanya berfungsi sebagai tempelan atau latar belakang. Dalam pergelaran musik pun jarang kita mengalami jenis musik yang bersifat kontemporer. Disisi lain pada umumnya para seniman menghibur diri dengan musik populer, baik jazz mainstrem atau fusion, maupun gaya pop-pseudo-avangarde yang sedang ngetrend.2 Musik kontemporer Indonesia adalah sebuah fenomena yang lahir sebagai produk budaya masyarakat Indonesia yang hidup di abad 20. Gejala ini muncul sebagai akibat dari pertemuan antara dua tradisi budaya Indonesia dengan sub kulturnya budaya Eropa. Pertemuan tersebut telah merangsang masyarakat Indonesia untuk menggunakan musik sebagai bahasa ekspresi yang personal. Musik tidak lagi merupakan cermin dari pandangan hidup sebuah komunitas, akan tetapi pandangan hidup seseorang indvidu dengan segala keunikannya. Dari sini muncul sebuah pelembagaan kreativitas yang saat ini kita kenal dalam bentuk sebagai berikut. (1) Pemisahan antara seorang pemain musik dan pencipta yang disusul dengan kemunculan figur seorang komponis. (2) Pembakuan karya musik yang tertuang dalam bentuk notasi. (3) Pementasan musik sebagai peristiwa khusus dalam sebuah gedung pertunjukan yang khusus pula dengan penonton yang tidak berasal dari sebuah komunitas. (4) Musik sebagai sebuah komoditi budaya yang berorientasi pasar. (5) Pembahasan karya musik yang berorientasi kemasalah estetika dengan menekankan aspek-aspek teknik formal. (6) Formalisasi pendidikan komposisi musik dalam program perguruan tinggi. (7) Tekstualisasi pertunjukan musik dalam media massa. Gejala pelembagaan diatas, muncul sebagai hasil dari sebuah transformasi budaya musik Indonesia kedalam sistem budaya musik Barat yang masuk kenegeri ini melalui jalur kolonialisme. Proses inilah yang kemudian membuat dunia musik kontemporer Indonesia menjadi sebuah fenomena politik dan menjadi arena konflik antara berbagai ideologi di awal kemerdekaan.