BLOG:Wisnu Mintargo

Just another WordPress weblog

9 Pencipta Lagu Perjuanngan
oleh Wisnu Mintargo pada 28 Februari 2011 jam 5:17

1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938) Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

2. Kusbini (1910-1991) pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang

mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

3. Cornel Simanjuntak (1920-1946) pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

4. Ismail Marzuki (19134-1958) prencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini

berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

5. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993) salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lag perjuanga…n ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

6. Liberty Manik (1924-1993) pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

7. Husein Mutahar (1916-2004) pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipe…rsiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang

paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

8. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920) Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra prop…aganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

9. Amir Pasaribu. Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Ind…onesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Pa adharma.

Ismail Marzuki [1934-1958]

PERJALANAN SEJARAH LAGU-LAGU PERJUANGAN INDONESIA DALAM KONTEKS PERSATUAN BANGSA

A. Arti Nasionalisme

Berkembangnya nasionalisme modern di Eropa yang dipelopori oleh para akhli ilmu pengetahuan, di Indonesia lahir kebangkitan nasional yang dipandang sebagai awal tumbuh dan berkembangnya sejarah yang pertama kali dipelopori oleh tokoh pergerakan kebangsaan seperti Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Bangkitnya nasionalisme ditandai lahirnya semangat kebangkitan nasional melalui organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Dengan tujuan “mencerdaskan bangsa”, berdasarkan kesadaran, tekad, dan upaya untuk mamajukan bangsa atas dasar falsafah dan wawasan yang bersumber pada kepribadian nusantara, didukung para cendekiawan berbasis pada pendidikan nasional untuk melawan bangsa penjajah.1

Nasionalisme merupakan kesadaran bersama yang dapat mempersatukan suku-suku bangsa yang hidup dinusantara. Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnya keinginan seluruh rakyat Indonesia membentuk negara kesatuan.2 Dalam perjalanan sejarah Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik Barat kepada abdi dalem di kesultanan kraton Yogyakarta dan kasunanan kraton Surakarta tujuannya agar dapat memainkan lagu kebangsaan ‘Wilhelmus’, saat upacara kunjungan tamu resmi para pejabat dari negeri Belanda. Selain itu perlakuan istimewa terhadap lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ serta diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional memicu timbulnya peluang dan konflik bagi kelompok cendekiawan Jawa yang ingin menguasai lagu kebangsaan dengan alternatif musik ritual yang khas dapat mewakili puncak kebudayaan nasional melalui instrumen gamelan. Usaha itu dilakukan dengan mencoba mengerahkan para empu gamelan di tahun 1930-an untuk dapat memodernisasi gamelan baik dari segi praktek maupun teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Mr. Muhammad Yamin, bahwa usaha-usaha untuk memainkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ terbukti mengalami kegagalan, oleh karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangganada diatonis, sedang untuk instrumen gamelan menggunakan tangga nada pentatonik.

Pada masa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme perkembangan musik diatonis berubah menjadi fenomena politik, disebabkan perbedaan pandangan tentang musik nasional. Perkembangan musik diatonis sebagai sarana pendidikan nasionalisme mengalir seiring munculnya generasi penerus setelah W.R. Supratman dan M. Syafei pendiri sekolah I.N.S. Kayutanam di Sumatera Barat, yaitu diantaranya munculnya para pemusik asal daerah Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jerman yang cukup handal. Para pemusik terkenal itu ialah Cornel Simanjuntak (komposer), Amir pasaribu (komposer, kritikus), J.A. Dungga (krtikus), L. Manik (komposer), Binsar Sitompul (komposer) dan W. Lumban Tobing (Etnomusikolog).3 Di Jawa dikenal Ismail Marzuki (komposer), Kusbini (komposer), Bintang Sudibyo (komposer), R.A.J. Soedjasmin (komposer, pendidik). Para pemusik ini tidak hanya beranggapan bahwa budaya musik nasional eksotisme tidak boleh dibangun diatas budaya musik jawa, tetapi harus mengikuti pola musik diatonis secara umum lebih mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kebinekaannya. Usaha seperti ini sebenarnya sudah dirintis jauh sebelum itu oleh para pemuda di tahun 1920-an menjelang Sumpah Pemuda, mengenai peranan musik diatonis yang dapat mewakili berbagai suku di Indonesia. Diantaranya dihimpun oleh organisasi kepemudaan yaitu paguyuban Pasundan, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Timorch Verbond, Kaum Betawi, Sekar Rukun, Islamieten Bond. Perkumpulan itu adalah cikal bakal perjuangan kedaerahan setelah tahun 1926 meningkat kearah persatuan pemuda semakin kuat. W.R. Supratman sebagai seorang pemuda patriotis sering mengikuti rapat-rapat tersebut yang dimulai dari gang Kenari sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan, hingga ia berkewajiban mendorong semangat persatuan melalui lagunya.

Sejak itu tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia, tidak hanya semata-mata didasarkan pada persamaan-persamaan sikap primordialisme, akan tetapi sudah bersifat terbuka. Di ilhami oleh cita-cita kebangkitan nasional dari tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda, yaitu satu Nusa, satu Bangsa, dan satu Bahasa. Bahasa Melayu yang diakui sebagai bahasa nasional, merupakan suatu kekalahan bagi bahasa Belanda, sebagai simbol ikrar, teks Sumpah Pemuda serta lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ memakai bahasa Indonesia serta sekali gus diakuinya musik diatonis. Akhirnya disimpulkan guna menetralisir keanekaragaman para pemuda Indonesia perana musik nasioanl tidak lagi berpihak kepada etnis Jawa atau lainnya, tetapi harus bersifat universal seperti dalam kedudukan musik diatonis. Oleh karena itu sistem tangga nada selendro dan pelog yang mendasari lagu-lagu instrumen gamelan perlu dihindari.4

B. Fungsi dan Jenis Lagu Perjuangan

Lagu Perjuangan Indonesia disebut dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk tujuan nasional. Dalam sejarah musik dikenal bahwa musik berfungsi mengiringi peribadatan agama (ritual), musik mengiringi tari berfungsi sebagai sarana hiburan. Fungsi primer lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai sarana upacara, dimana kedudukan para pemain dan peserta didalam seni pertunjukan harus dilibatkan, hingga seni pertunjukan jenis ini bisa disebut the Art of Participation. Fungsi sekunder lagu-lagu perjuangan sebagai media agitasi politik berguna untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penindasan, dan keberadaan jenis lagu-lagu ini di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jumlahnya cukup banyak. Sebagai seni pertunjukan dalam lagu-lagu perjuangan, idiom musik barat dikemas berdasarkan kemampuan musikalitas masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Secara umum pengertian lagu-lagu perjuangan adalah kemapuan daya upaya yang muncul melalui media kesenian di dalam peranannya pada peristiwa sejarah kemerdekaan di Indonesia. Upaya ini disebut sebagai sikap patriotis didalam konteks sejarah sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional lagu-lagu perjuangan disebut sebagai lagu wajib, diajarkan mulai pada tingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui Intruksi Menteri Muda Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan Nomor. 1 tanggal 17 Agustus 1959, diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963, telah ditetapkan 7 buah lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib yaitu (1) lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman. (2) lagu ‘Bagimu Neg’ri ciptaan Kusbini. (3) lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak. (4) lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki. (5) lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ ciptaan Ismail Marzuki. (6) lagu ‘Berkibarlah benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, dan (7) lagu ‘Satu Nusa satu Bangsa’ ciptaan L. Manik. Dalam uraian berikut ini dijelaskan pula tentang apa yang dimaksud sebagai sebagai jenis lagu-lagu perjuangan Indonesia menjadi empat jenis sebagai berikut.

1. Lagu Himne

Himne atau Himnos dalam bahasa Yunani diartikan untuk penghormatan dan pemujaan kepada dewa, para pahlawan atau tokoh pemimpin terkemuka, terutama dipersembahkan sebagai tanda perdamaian atau pernyataan terimakasih kepada dewa Apollo. Pada perang Dunia II jenis lagu ini berkembang dan dipakai dalam kemiliteran di Inggris untuk diperdengarkan kepada serdadu guna memotivasi moral para prajurit di medan pertempuran seperti dalam lagu ‘there’ll be an England’.

Di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jenis lagu himne menjadi inspirasi para pencipta di masa pendudukan tentara Jepang tahun 1942-1944, sebagai pemujaan dalam membangun moral cinta tanah air, berjuang di jalan kebenaran. Pada masa revolusi jenis lagu-lagu ini dinyanyikan secara teratur oleh para pemuda pemudi pelajar pelajar di Yogyakarta sebagai pusat perjuangan untuk dipergunakan pada perayaan upacara di istana Kepresidenan dalam aubade dan paduan suara pada acara resepsi kenegaraan, pertunjukan kesenian atau dalam acara siaran radio. Lagu tersebut ialah ‘Bagimu Neg’ri’ ciptaan Kusbini, ‘Tanah Tumpah Darahku’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ ciptaan L. Manik, ‘Mengheningkan Cipta’ ciptaan T. Prawit.

2. Lagu Mars

Mars dalam bahasa Inggris disebut Marche, dalam bahasa Perancis disebut Marcia. Mars ialah musik dengan irama cepat berfungsi untuk membangkitkan semangat pasukan dengan gerak langkah serempak dalam prosesi militer yang rapih. Musik mars merupakan ornamentasi irama drum dalam tempo cepat, dengan aksen yang kuat dikembangkan kedalam frase kunci mayor.

Di Indonesia lagu-lagu mars patriotik pada masa perang kemerdekaan digunakan dalam bentuk yang sama oleh para pemuda yang dikirim bertempur ke garis depan. Berlainan dengan jiwa semangat lagu mars propaganda Jepang yang diatur dan ditentukan oleh Keimin Bunka Shidosho. Sebagai perasaan nasional dalam perkembangannya jenis lagu-lagu ini dapat dibagi menjadi dua yaitu, pertama, fungsi primer lagu mars bersifat konstruktif memiliki makna sebagai sarana upacara disebut jenis magnetic song, yaitu lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman, bila lagu ini berkumandang para peserta upacara harus berdiri tegap di tempat dengan pandangan kedepan, hingga setiap warga negara akan dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan tidak jarang orang menitikan air mata atas keagungan lagu tersebut. Kedua, fungsi sekunder lagu mars perjuangan bersifat membangkitkan semangat cinta tanah air melawan penjajahan bersifat uraian seperti pidato yang bersenandung memiliki makna agitasi disebut jenis rheoric song dinyanyikan dalam prosesi berjalan contohnya adalah lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Sorak-sorak Bergembira’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki, ‘Berkibarlah Benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, ‘Hari Merdeka’ ciptaan H. Mutahar, ‘Dari Barat Sampai Ketimur’ ciptaan R. Sunaryo.

3. Lagu Percintaan

Pada masa revolusi di Indonesia selain jenis lagu himne dan mars, muncul pula lagu-lagu perjuangan yang bernuansa percintaan erat kaitannya dengan perasaan romantika para pemuda dalam suasana cinta yang mengharukan. Hampir semua lagu-lagu jenis ini bercerita tentang perjuangan dan cinta yang dialami seorang pemuda dengan seorang gadis, dengan sahabat atau keluarganya, bahwa kepergiannya merupakan tugas negara yang mungkin perpisahan sementara itu menjadi untuk selama-lamanya. Fungsi lagu ini sebagai kenangan sekaligus sebagai sarana hiburan.

Lagu percintaan sangat populer di segala lapisan masyarakat dan selama revolusi jenis lagu ini menjadi reportoar terpenting dari siaran radio dan acara seni pertunjukan dalam bentuk sandiwara. Lagu hiburan dan lagu berirama keroncong ciptaan yang terkenal diantaranya karya Ismail Marzuki yaitu ‘Melati di Tapal Batas’, Selendang Sutera’. ‘Sepasang Mata Bola’. ‘Gugur Bunga’. ‘Sapu Tangan dari Bandung Selatan’. Jantung Hatiku Seorang Opsir Muda’. ‘’O Angin Sampaikan salamku’. ‘Selamat Tinggal Ibunda’, ‘Jauh dimata dekat di hati’. ‘Hallo Bu disini garis Terdepan’. ‘ Sersan Mayorku’. Sampul Surat’. ‘Kroncong Sekapur Sirih’, ‘Banyu Biru’, ‘Kroncong Melamun;.

4. Lagu Sindiran

Jenis lagu ini dibuat untuk menggambarkan keburukan masyarakat kita di masa perjuangan. Jumlah lagu-lagu ini tidak banyak dan pada umumnya tidak bertahan lama, tetapi karena sindirannya tepat biasanya lagu ini sangat cepat menjadi populer dinyanyikan oleh kalangan masyarakat sebagai suatu acara selingan selain lagu perjuangan lainnya. Lagu jenis ini menggambarkan sesuatu yang merugikan perjuangan, berupa ungkapan kritik melalui lagu terhadap perubahan yang terjadi seperti masalah lingkungan sosial, mengenai sisi kehidupan antara sikaya dan simiskin, pemerintah dan rakyat dan sebagainya. Secara umum jenis lagu ini tidak diketahui para penciptanya dan biasanya tidak bertahan lama, sesaat menghilang begitu saja ditelan masa. salah satu contoh jenis lagu sindiran yang dapat diselamatkan sebagai dokumentasi adalah ‘Sepanjang Malioboro’.

C. Fungsi Primer Lagu Sarana Upacara

Fungsi primer bersifat konstruktif berisi pesan pembangunan sebagai sarana seremonial dalam suatu kegiatan upacara bersifat kenegaraan yaitu lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman dan lagu “Bagimu Neg’ri’ ciptaan Kusbini. Kedua lagu ini diangkat mewakili lagu-lagu bersifat upacara secara kebetulan usianya lebih tua dibandingkan dengan lagu-lagu perjuangan lainnya. Penggunaannya hanya dilaksanakan pada saat tertentu dalam posisi ditempat sebagai penghormatan sebagai lambang negara dan sumpah bakti kepada nusa dan bangsa diungkapkan dengan rasa khidmat secara mendalam. Lagu-lagu tersebut diciptakan sebelum revolusi bahkan peranannya sangat penting pada masa perang kemerdekaan di tahun 1945-1949. Selain itu dengan diperdengarkannya lagu adanya tanda bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk bangkit sebagai negara yg merdeka, guna merubah presepsi pada situasi keadaan yang pesimis menjadi suatu sikap yang optimis dan mampu menggerakan keinginan positif menjadi perbuatan konstruktif. Hal ini dibuktikan yaitu pada tahun 2004 lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dan ‘Bagimu Neg’ri berkumandang mengiringi upacara pembukaan serta acara penanda tanganan serah terima jabatan Kepala Negara di gedung MPR. RI Jakarta.

1. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Gagasan tentang terciptanya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ sebagai sarana upacara, yaitu pada suatu hari Supratman tergugah hatinya, ketika membaca artikel yang dimuat dalam surat kabar Fajar Asia, artikel itu semula dimuat dalam majalah Timboel yang terbit di Sala, kemudian dikutip oleh surat kabar Fajar Asia yang dipimpin Haji Agus Salim. Karangan itulah yang dibaca oleh Supratman dan akhirnya menggerakan hatinya untuk menanggapi tantangan itu. Selain itu Soekarno sebagai ketua Patai Nasional Indonesia pada waktu itu pernah secara langsung menghubungi Supratman dengan mengatakan pergerakan nasional memerlukan lagu kebangsaan.

Wage Rudolf Supratman (1903-1938) (Foto Dok:Bambang Sularto)

Menjelang diselenggarakannya kongres pemuda II di Jakarta kesempatan ini digunakan W.R. Supratman untuk memperkernalkan lagunya dalam acara puncak penutupan kongres pemuda II, tanggal 28 Oktober 1928 digedung Indinesische Club (Perkumpulan Indonesia) Kramat 106 Jakarta. Betapa hebatnya lagu itu disambut para peserta kongres dan Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Fungsi lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dimasa pemerintahan kolonial Belanda penggunaannya semakin luas di kalangan masyarakat hingga dibenak para pegawai negeri, para guru, pamong praja, termasuk pada kalangan serdadu berdinas dalam KNIL. Sejumlah kalangan pegawai negeri yang ditugaskan mengawasi jalannya suatu rapat pertemuan kaum pergerakan selalu ikut berdiri ketika lagu tersebut diperdengarkan. Akhirnya pemerintah Belanda membuat surat edaran dengan pernyataan bahwa pegawai negeri yang di tugaskan mengawasi upacara, harus bersikap netral, dan tidak diperkenalkan berdiri apa bila lagu itu diperdengarkan, karena lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ bagi pemerintah diakui sebagai lagu perkumpulan (Club Lied). Pemerintah Belanda tidak pernah berhasil membungkam lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, lagu itu terus berkumandang di daerah gerilya, dalam rumah kuasai Belanda di daerah Jawa dan daerah lainnya, bahkan para mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda sudah menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Upacara 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (Foto Dok:Radik U)

Pada tanggal 8 September 1944 panitia lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ yang dipimpin Soekarno berhasil menyelesaikan tugasnya dengan membuat ketetapan-ketetapan baru, yaitu untuk mengibarkan sang saka Merah Putih, maka lagu kebangsaan ’Indonesia Raya’ wajib diperdengarkan. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 dalam pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno, dihadapan para pemimpin dan ratusan rakyat Indonesia yang hadir pada pagi hari di jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta, telah menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, pengibaran sang Saka Merah Putih dilakukan, dengan serempak para hadirin menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Peristiwa yang bersejarah itu tetap berlangsung hingga kini dan diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

2. Lagu Bagimu Neg’ri

Lagu Bagimu Neg’ri dimaksudkan adalah Negara Republik Indonesia yang disingkat dengan kata sandi Neg’ri, agar tidak diketahui pemerintah Jepang. Makna lagu ‘Bagimu Neg’ri’ menurut Kharis Suhud adalah sumpah bakti dan curahan hati seorang nasionalis kepada bangsa dan negara, serta kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengabdi, berkorban tanpa pamrih demi jiwa raga.

Lagu ‘Bagimu Neg’ri’ merupakan urutan kedua setelah lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ diciptakan Kusbini tahun1942 atas permintaan Soekarno, bertujuan sebagai ungkapan sumpah bakti kepada negara, selain itu untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang masuk ke Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang Kusbini bekerja pada Organisasi Pusat Kebudayaan (Keimin Buinka Shidoso), mencoba mengungkapkan jiwa patriotisme secara halus melalui lagu ini. Lagu ‘Bagimu Neg’ri’ bagi penciptanya memiliki kesan tersendiri, ia tercipta ketika Kusbini bekerja di radio Hoso Kanri Kyoku, memimpin orkes bersama Ismail Marzuki dan M. Sagi. Selain bertugas sebagai pimpinan siaran radio taman kanak-kanak bersama ibu Sud, mereka adalah anggota Badan Pusat Kesenian Indonesia yang dibentuk pada tahun 1942.

Ide mengenai pemberian nama Republik dalam lagunya dalam satu bait hakekatnya didapat melalui inspirasi yang dicetuskan Tan Malaka pada saat pengasingan di luar negeri mendirikan partai Republik Indonesia, setelah pemberontakan komunis gagal ditahun 1926. Brosur berjudul Naar Republiek Indonesia (1936) dicetak di Tokyo kemudian diselundupkan dari negara Bangkok ke Indonesia. Isu mengenai nama Negara Republik Indonesia akan berbentuk Republik sebenarnya sudah ada sejak lama didalam konsep pemikiran para pemimpin pergerakan. Sejak tahun 1935 sebelum perang dunia II selain Tan Malaka, Soekarno dan Mohammad Hatta sudah membahas tentang ini dalam buku-buku tulisan mereka. Kemudian dalam perkembangan berikutnya ide mengenai pemberian nama Negara Republik Indonesia muncul bersamaan, diperkuat lagi hubungan dekat Kusbini dengan orang-orang pergerakan politik berhaluan kanan maupun kiri di kota Surabaya yang berminat belajar musik keroncong padanya, dan dari pembicaraan mereka itulah Kusbini mendengar nama Republik.

Kusbini (1910-1991) (Foto. Dok:Kamajaya)

Dalam proses penyelesaian akhir lagu ‘Bagimu Neg’ri’ hasilnya diperlihatkan dan dikonsultasikan kepada Soekarno di Gedung Menteng 31 Jakarta, untuk disetujui sebelum diperdengarkan melalui siaran radio Hoso kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman yang mengajar di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta pada sekitar tahun 1943-1944 pemerintah Jepang telah memberlakukan larangan menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di manapun juga, sebagai gantinya untuk membangkitkan suasana cinta tanah air, maka lagu ‘Bagimu Neg’ri’ saat itu diperdengarkan sebagai penganti sementara lagu kebangsaan. Pada tahun 1946-1947 setelah tidak berfungsi lagi sebagai lagu kebangsaan, lagu ‘Bagimu Neg’ri’ dipakai dalam mengiringi upacara prosesi militer dan pelantikan prajurit angkatan Laut RI di Lawang, Jawa Timur. Pada tahun 1948 Soekarno dalam rapat panitia lagu kebngsaan Indonesia Raya, pernah mengusulkan agar lagu ‘Bagimu Neg’ri’ dipertimbangkan juga untuk bisa diangkat menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Akhirnya usulan itu diputuskan dalam rapat panitia, bahwa lagu’Bagimu Neg’ri’ ditetapkan menjadi lagu wajib nasional pada urutan kedua sebagai lagu nasional setelah lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.

Pada tahun 1959 lagu ‘Bagimu Neg’ri’ ditetapkan sebagai lagu wajib berlaku bagi sekolah tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi, terutama dalam upacara wisuda tingkat sarjana. Sudah sejak lama lagu ini dipakai penutup siaran berita RRI dan penutup siaran TVRI. Pada tanggal 30 Agustus 1979 lagu ‘Bagimu Neg’ri’ pertamakali dipergunakan dalam mengiringi upacara penandatanganan dan penyerahan secara simbolis Prasamya Purna Nugraha oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur KDH TK I. Jawa Tengah Supardjo Rustam di Semarang. Pada tahun 2004 lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan menmgiringi acara kenegaraan penandatanganan serah terima jabatan Presiden Republik Indonesia pada sidang istimewa dari ketua MPR kepada Susilo Bambang Judoyono sebagai Presiden Republik Indonesia periode th 2004-2009, dengan diiringi oleh Orkes Tiup Korp Musik Militer di gedung MPR.RI Jakarta.

Bagimu Neg’ri

D. Fungsi Sekunder Lagu Semangat Patriotisme

Fungsi sekunder bersifat konstruktif, ialah lagu perjuangan sebagai sarana pembangkit semangat solidaritas bangsa cinta tanah air guna menghimpun persatuan dan kesatuan melawan penjajahan di Indonesia. Revolusi musik di Indonesia mendorong perkembangan pesat dan perubahan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Jiwa revolusi menimbulkan kebebasan dan menghilangkan rasa rendah martabat bangsa, sebaliknya merubah keberanian. Ritme dan irama mars satu diantaranya lagu hasil koloborasi propaganda Jepang dimanfaatkan, dan baru pada masa revolusi tahun 1945-1949 dapat berfungsi membangkitkan semangat mengusir penjajahan di bumi Indonesia.

Munculnya lagu-lagu perjuangan mampu membangkitkan semangat patriotisme di seluruh Nusantara. Jenis lagu-lagu ini menjadi populer, terutama di Jawa sebagai pusat perjuangan. Masyrakat dapat menghafalnya dengan baik mulai dari pelosok kota yang ramai sampai kedaerah pelosok terpencil, melalui karnaval barisan pemuda, barisan tentara pelajar sampai gerakan pelajar mahasiswa dan masyarakat yang berunjuk rasa, lagu ini tetap masih relevan digelorakan untuk memprotes ketidak adilan di Indonesia.

Pada masa perang kemerdekaan penyebaran jenis lagu ini biasanya dilakukan secara lisan seperti mendengar siaran radio, melalui perorangan atau kelompok perkumpulan masyarakat sesuai dengan perkembangan politik saat itu. Siaran radio ternyata banyak dimanfaatkan oleh para guru di daerah, mereka mencatat lagu-lagu perjuangan Indonesia baik melodi maupun syairnya, untuk dilestarikan, kemudian diajarkan kepada murid-murid sekolah yang berstatus Non Goverment (swasta) sebagai mata pelajaran nilai-nilai patriotisme pada waktu itu.5

Kondisi tersebut diatas secara bertahap mengalami kemajuan dan memiliki komunitas tersendiri guna mengimbangi lagu-lagu asing yang populer saat itu. Terbukti bahwa bangsa Indonesia berhasil membina persatuan dan kesatuan dengan mengambil alih lagu untuk sarana pendidikan kesadaran nasionalisme pada masa akhir transisi kekuasaan Jepang dan awal kolonialisme yang kembali melancarkan agresinya di Indonesia. Lagu itu ialah ‘Maju tak gentar’ ciptaan Cornel Simajuntak, dibahas mewakili sala satu lagu-lagu bersifat propaganda Jepang yang diubah fungsinya oleh Cornel Simanjuntak saat itu menjadi sebuah lagu perjuangan Indonesia. Lagu ‘Hallo-hallo Bandung ciptaan Ismail Marzuki, dibahas mewakili salah satu lagu-lagu ciptaan para komponis Indonesia yang bersifat membangkitkan semangat perlawanan rakyat Indonesia dimasa itu.

1. Lagu Maju Tak Gentar

Lagu ‘Maju Tak Gentar’ pada mulanya adalah lagu propaganda Asia Timur Raya hasil propaganda pemerintah Jepang dan Indonesia berjudul ‘Maju Putera-puteri Indonesia’ ciptaan Cornel Simanjuntak tahun 1944. Pada tahun 1945 oleh penciptanya diubah menjadi lagu ‘Maju Tak Gentar’ karena pengalamannya sebagai pejuang, dan baru setelah proklamasi kemerdekaan, lagu ini memperoleh fungsi yang sebenarnya. Lagu ‘Maju Tak Gentar’ dimaksudkan untuk memotivasi rakyat guna membangkitkan semangat persatuan membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan Inggris dan Belanda yang selama sekali tidak rasional. Dalam pertempuran itu tampak senapan bekas peninggalan penjajah, bambu runcing, keris, rencong, pedang, clurit melawan senapan otomatis dan meriam. Dengan strategi perlengkapan seadanya ditambah lagi dengan perlawanan yang tidak berimbang, namun pada kenyataannya rakyat Indonesia tidak gentar menghadapinya, seirama dengan semangat lagu ‘Maju Tak Gentar’.

Cornel Simanjuntak (1920-1946) (Foto Dok: Teo Sunu Widodo)

Sejak revolusi meletus rumah kediaman Cornel Simanjuntak di jalan Purbaya no. 21 Tanah Tinggi Jakarta menjadi tempat para pemuda membicarakan masalah politik. Dari hari kehari keterlibatannya didalam pergolakan bangsa menjadi nyata, seakan-seakan lagu ‘Maju Tak Gentar’ yang diciptakannya itu belum cukup menunjukan keterlibatannya dalam perjuangan. Cornel Simanjuntak pernah menyatakankan kepada rekan-rekan seperjuangan bahwa penjajahan harus dilawan dengan perjuangan mengangkat senjata, dan dari sisnilah gagasan lagu itu muncul. Sebagai seorang pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia (API) cabang Tanah Tinggi bermarkas di Menteng 31, Cornel Simanjuntak bersama para pemuda akrtif memberi penerangan tentang arti kemerdekaan kepada masyarakat di daerah Kota hingga ke daerah Krawang. Dalam tugas itu ia bersama Binsar Sitompul dan pejuang lainnya mengendarai mobil pickup tua dengan iringan sebuah gitar berkumandanglah lagu lagu ‘Sorak-sorak Bergembira’ dan lagu ‘Maju Tak Gentar’ dengan melambaikan bendera merah putih untuk membangkitkan semangat rakyat disepanjang jalan yang dilalui. Pada tahun 1946 para alumni HIK muntilah tempat Cornel Simanjuntak belajar musik, membentuk perkumpulan paduan suara Pemuda Nusantara khusus menyanyikan lagu perjuangan yang dipancarkan secara rutin melalui studio RRI Kotabaru Yogyakarta. Menurut Frans Seda dan Alex Rumambi, lagu ‘Maju Tak Gentar’ saat itu sangat terkenal dan mampu membangkitkan semangat Tentara Pelajar Yogyakarta di front pertempuran. Pada tanggal 5 Oktober 2000 lagu ‘Maju Tak Gentar’ berfungsi sebagai aubade mengiringi prosesi barisan peserta upacara parade musik militer HUT. TNI ke-55 di laun-alun utara kraton Yogyakarta. Pada tanggal 6 Maret 2001 sebagai musik aubade HUT Kostrad ke-40 Jakarta, dan tanggal 17 Agustus 2001 berkumandang di Istana Kepresidenan Yogyakarta mengiringi peserta upacara.

2. Lagu Hallo-hallo Bandung

Lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ asal mulanya diciptakan oleh Ismail Marzuki pada tahun 1945 berbicara dalam konteks keindahan kota parahyangan Bandung sebelum terjadi peristiwa apapun. Sesuatu hal yang mengejutkan kita semua menjadi menarik perhatian, karena sifat romantis yang dimiliki Ismail Marzuki pada tahun 1945 tiba-tiba berubah sikap menjadi seorang revolusioner dalam membangkitkan semangat perlawanan terhadap sekutu dalam peristiwa Bandung lautan api tangga 24 Maret 1946. Ismail Marzuki betapapun kurang agresif dan kurang agitasinya dalam perjuangan politik, namun sebagai seniman musik ia telah mewakili seluruh perasaan bangasanya. Perhatian terhadap semangat kebangsaan diperlihatkannya dalam perjalanan di front pertempuran dengan memberikan hiburan kepada para pejuang yang dikunjunginya dengan membawakan lagu ciptaannya sendiri. Karya yang dihasilkannya dalam lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ sebenarnya tidak dirancang khusus oleh penciptanya. Saat sebelum peristiwa Bandung lautan api, keberadaan lagu ini sudah ada dalam format aslinya, dan karena situasi yang berlaku, keadaan serupa dapat merubah fungsi lagu itu dalam konteks yang sebenarnya pada peristiwa revolusi tahun 1946.

Peranan lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ pada masa perjuangan menjadi terkenal bahkan menjadi bahasa sandi operasi serangan Tentara Republik Indonesia (TRI) terhadap pendudukan tentara sekutu dikenal dengan slogan ‘Bandung rebut kembali’, seperti syair yang diubah “Slagi hayat dan hasrat masih dikandung badan kita kan jumpa pula”, agar lebih konteks dalam peristiwa Bandung lautan api tahun 1946, maka syair itu diubahnya menjadi “Sekarang telah menjadi lautan api mari bung rebut kembali”. Slogan semangat perjuangan rakyat Jawa Barat bersifat kedaerahan, kini menjadi populer dan menempatkan lagu ini menjadi bagian dari sejarah nasional dan lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ berkumandang setiap tanggal 24 Maret mengiringi acara Longmars para pemuda dalam memperingati peristiwa Bandung Lautan Api.

Ismail Marzuki (1914-1958) (Foto Dok: Suwito & G.S Pardede)

Menurut sejarah, kedudukan kota Bandung di masa revolusi peranannya sangat penting bagi tentara Sekutu Inggris dan Belanda, antara lain untuk pendidikan militer, pusat rehabilitasi peralatan dan perbengkelan, gudang perbekalan, tempat pertahanan, pangkalan militer, serta pusat produksi bahan peledak dan senjata di Kiaracondong. Karena letaknya cukup strategis, maka kota Bandung menjadi ajang perebutan kekuasaan antara pejuang Indonesia dengan tentara Sekutu. Tentara Inggris dan Belanda menuntut agar Tentara Republik Indonesia dan para pejuang meninggalkan kota Bandung. Tututan itu tidak dipenuhi para pejuang Indonesia, akibatnya pertempuran sering terjadi di kota Bandung selatan dan sekitarnya. Untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak, akhirnya pemerintah Republik Indonesia memenuhi tuntutan Inggris dan Belanda walau dengan berat hati. Sebelum meninggalkan kota Bandung, para pejuang mengadakan serangan ketempat pendudukn Inggris dan Belanda, rakyat tidak rela gedung kantor dan sarana penting lainnya diduduki Sekutu. Sambil meninggalkan kota Bandung pejuang dan Tentara Republik Indonesia beserta rakyat mengadakan pengrusakan dan pembakaran sarana umum dan rumah penduduk yang akan dijadikan markas tentara Sekutu, sebagai tanda pernyataan ketidak ikhlasan rakyat. Dalam peristiwa ini dikenal dengan sebutan taktik bumi hangus. Pada tanggal 24 Maret 1946 api berkobar di kota Bandung Selatan dan lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ berkumandang dalam peristiwa itu.6

E. Fungsi Kesadaran Nasionalisme

Fakta sejarah dapat dipahami dengan baik, hanya jika terlebih dahulu memahami kondisi yang melatar belakanginya dan dapat menetukan hubungan antara kondisi dan fakta. Hal ini disebabkan karena setiap masyarakat sebagai unit yang lebih kecil merasakan pengaruh dan bereaksi terhadap lingkungannya. Teori geografi mengenai interaksi manusia dan alam yang penting disini adalah teori posibilisme, yang menerangkan bahwa alam sekedar menawarkan berbagai kemungkinan untuk dimanfaatkan oleh manusia sikap dan cara berfikirnya.

Menurut James Dibdin (1962), analisis secara historis karakter bangsa dapat dilakukan melalui sikap serta pemikiran nasionalnya yaitu, (1) Karakter bangsa yang mempunyai sifat pendendam dan kejam dalam peperangan. (2) Karakter bangsa yang mempunyai sifat pemalas dan enggan berusaha. (3) Karakter bangsa yang mempunyai sifat kesatria bila harus berjuang menghadapi tantangan dan penindasan.7 Sikap inilah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan berhasil merebut kemerdekaan, tercermin dari motivasi lagu-lagunya yang mampu menggelorakan semangat patriotisme berdasarkan cita-cita kemerdekaan yang sedang diperjuangakan. Sebab sejak meletusnya revolusi 1945 lenyap pula lagu-lagu berbahasa Jepang dan lagu propaganda Asia Timur Raya, sebaliknya dalam kondisi seperti ini terjadi kekosongan bagi dunia pendidikan yang saat itu sangat membutuhkan pelajaran kesenian. Pemerintah Indonesia tidak mampu berbuat banyak, dan untuk mengimbangi kekkosongan, setiap sekolah harus mengusahakan sendiri lagu-lagu tersebut, salah satunya adalah memanfaatkan lagu-lagu perjuangan sebagai sarana pendidikan kesadaran nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Selain itu sebagai ujud kecintaan pada tanah air digunakan simbol seperti bendera nasional, lagu kebangsaan, cerita kepahlawanan rakyat, dan ornamen-ornamen lain agar dapat memotivasi warga negara dalam mewujudkan kebersamaan. Untuk itu pendidikan nasional melalui kesenian sebaiknya mulai diajarkan kepada anak-anak sejak dini baik di sekolah, di rumah, dan di lingkungannya agar dapat menimbulkan rasa memiliki terhadap nilai-nilai patriotisme. Misalnya dengan menampilkan tokoh kepahlawanan rakyat lewat media kesenian, dapat pula menyalurkan rasa nasionalisme kedalam diri individu sesuai dengan cita-cita bangsa, yaitu membangkitkan persatuan dan kesatuan. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa nasionalisme memiliki pengaruh besar terhadap musik nasional. Bahasa bagian dari syair lagu berfungsi sebagai alat komunikasi merupakan faktor pemersatu berbagai etnis yang berbeda-beda.

Dapat disimpulkan dari hasil analisis lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib nasional berdasarkan ketetapan pemerintah tahun 1959, bertujuan agar diajarkan dalam pendidikan nasional di seluruh tanah air untuk diketahui oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai kebhinekaannya guna membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia sebagai berikut.

1. Lagu-lagu perjuangan yang diciptakan oleh pencipta lagu Indonesia adalah ekspresi dari perasaan pejuang, melalui ungkapan suara rasa kebangsaan, nasionalisme dan persatuan yang dapat dibagi menjadi tiga tyahap. Pertama, melodi diciptakan dengan sederhana agar mudah dinyanyikan oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Kedua, teks syair menggunakan bahsa Indonesia, agar dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai kebhinekaannya. Ketiga, munculnya lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah akibat adanya tekanan dari kaum penjajah pada masa perjuangan dan perang kemerdekaan di Indonesia.

2. Pada tahun 1960 Soekarno memerintahkan Husein Mutahar dan para pencipta lagu perjuangan Indonesia untuk menyelenggarakan upacara aubade pada hari besar nasional dengan memanfaatkan lagu-lagu perjuangan Indonesia sesuai dengan fungsinya. Untuk memaknai hasil perjuangan bangsa, maka lagu-lagu itu oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai lagu nasional melalui surat keputusan Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan No. 17 1 tanggal 17 Agustus 1959, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963. Anjuran tersebut sampai saat ini tetap dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat serta dunia pendidikan guna dilestarikan, dan dipakai pada upacara kenegaraan puncak peringatan detik-detik proklamsi 17 Agustus 2002 di Istana Kepresidenan bersama iringan Korp Musik Markas Besar TNI Angkatan Darat serta diakhiri dengan acara aubade lagu-lagu nasional bersama siswa-siswi SLTP se-DKI Jakarta bersama Orkes Simponi Sekolah Menengah Musik Negeri (SMM) Yogyakarta.

KEPUSTAKAAN

1Kaelan, H. Pendidikan Pancasila. (Yogyakarta: Paradigma, 1998), hlm. 705.

2Setiawan, B., ed. Ensiklopedi Nasional Indonesia. (Jakarta: Cipta Pustaka, 1990), hlm. 33.

3Wisnu Mintargo. “Peranan Lagu-lagu Perjuangan Terhadap Pemahaman Pendidikan Kesadaran Nasionalisme di Indonesia”, dalam Jurnal Racmi BPG Yogyakarta No. 2, hlm. 13

4R.M. Soedarsono. Seni Pertunjukan di Era Globalisasi. (Jakarta: Dikti Depdiknas, 1998), hlm. 39.

5Wisnu Mintargo. Musik Revolusi Indonesia.. (Yogyakarta: Ombak 2001), hlm.73.

6Wisnu Mintargo. “Perjalanan Sejarah Lagu-lagu Perjuangan Indonesia dalam Konteks Persatuan Bangsa”, dalam Jurnal Seni Pengetahuan dan Penciptaan Seni. Volume IX. No. 04-Juli, 2003. ISI Yogyakarta, hlm. 371.

7Rolland, Romain., ed. The International Library of Music for Home and Music Literatur 2. (New York: The University Sosiety, 1962), hlm. 525.



Jurnal ISI Yogyakarta jULI 2003. PERJALANAN SEJARAH LAGU-LAGU PERJUANGAN iNDONESIA DALAM KONTEKS PERSATUAN BANGSA
Tidak SukaSuka · Komentari · Bagikan · Hapus

*
*
Anda dan Sulaiman Juned menyukai ini.
*
o
Sulaiman Juned tak ada kat berhenti, yang ada ‘terus……..’
17 November jam 13:03 · SukaTidak Suka
o
Wisnu Mintargo ok
18 November jam 10:43 · SukaTidak Suka · 1 orangSulaiman Juned menyukai ini.
*
Tulis komentar…

Facebook © 2010 · Bahasa Indonesia
Tentang · Iklan · Pengembang · Karier · Privasi · Ketentuan · Bantuan

No comments

Jazz (cara pengucapan: [Jes], tidak pernah [Jas]) adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa.

Musik jazz banyak menggunakan gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Salah satu elemen penting dalam jazz adalah sinkopasi.

Daftar isi

* 1 Definisi
* 2 Asal kata “Jazz”
* 3 Aliran-aliran dalam jazz
* 4 Alat musik yang digunakan
* 5 Pemusik jazz terkenal
o 5.1 Indonesia
o 5.2 Jerman
* 6 Lihat pula
* 7 Pranala luar

[sunting] Definisi

Double bassist Reggie Workman, pemain saksofon tenor Firaun Sanders, dan drummer Muhammad Idris tampil pada tahun 1978

Jazz bisa sangat sulit untuk menentukan karena membentang dari waltz Ragtime untuk fusi era tahun 2000-an. Meskipun banyak upaya telah dilakukan untuk menentukan jazz dari sudut pandang di luar jazz, seperti menggunakan sejarah musik Eropa atau musik Afrika, kritikus jazz Joachim Berendt berpendapat bahwa semua upaya tersebut tidak memuaskan. Salah satu cara untuk berkeliling masalah definisi adalah untuk mendefinisikan jazz “istilah” lebih luas. Berendt mendefinisikan jazz sebagai bentuk “seni musik yang berasal dari Amerika Serikat melalui konfrontasi orang kulit hitam dengan musik Eropa”, ia berpendapat bahwa jazz berbeda dari musik Eropa dalam jazz yang memiliki hubungan “khusus untuk waktu, yang didefinisikan sebagai ‘ayunan’ “,” sebuah spontanitas dan vitalitas produksi musik di mana improvisasi memainkan peran “, dan” kemerduan dan cara ungkapan yang cermin individualitas dari musisi jazz melakukan “.

Travis Jackson juga mengusulkan definisi yang lebih luas dari jazz yang mampu mencakup seluruh era yang berbeda secara radikal: ia menyatakan itu adalah musik yang mencakup kualitas seperti “berayun ‘, improvisasi, interaksi kelompok, mengembangkan sebuah” suara individu, dan menjadi ‘terbuka’ untuk kemungkinan musik yang berbeda Krin Gabbard mengklaim bahwa” jazz adalah membangun “atau kategori yang, sementara buatan, masih berguna untuk menunjuk” sejumlah musics dengan cukup umum harus dipahami sebagai bagian dari sebuah tradisi yang koheren “.

Sementara jazz mungkin sulit untuk menentukan, improvisasi jelas salah satu elemen kunci. Awal blues pada umumnya terstruktur sekitar pola panggilan-dan-respon yang berulang, unsur umum dalam tradisi lisan Afrika Amerika. Suatu bentuk musik rakyat yang meningkat di bagian dari lagu kerja dan bidang hollers Hitam pedesaan, blues awal juga sangat improvisasi. Fitur-fitur ini mendasar dengan sifat jazz. WhilProxy-Connection: hidup terus-Cache-Control: max-age = 0

dalam unsur-unsur musik klasik Eropa interpretasi, ornamen dan pendampingan kadang-kadang kiri ke kebijaksanaan yang berprestasi itu, tujuan utama adalah pemain memainkan komposisi seperti yang tertulis.

Dalam jazz, Namun, pemain ahli akan menafsirkan sebuah lagu dengan cara yang sangat individu, tidak pernah memainkan komposisi yang sama persis dengan cara yang sama dua kali. Tergantung mood pemain dan pengalaman pribadi, interaksi dengan sesama musisi, atau bahkan anggota audiens, seorang musisi jazz / pemain dapat mengubah melodi, harmoni atau waktu penandatanganan di akan. musik klasik Eropa telah dikatakan media komposer. Jazz, namun, sering ditandai sebagai produk kreativitas egaliter, interaksi dan kolaborasi, menempatkan nilai yang sama pada kontribusi dari komposer dan pelaku, ‘tangkas berat [ing] klaim masing-masing komposer dan improvisasi’ .

Di New Orleans dan Dixieland jazz, performer bergantian bermain melodi, sementara yang lain countermelodies improvisasi. Dengan era swing, big band datang untuk lebih mengandalkan musik diatur: pengaturan entah tertulis atau dipelajari oleh telinga dan hafal – banyak artis jazz awal tidak bisa membaca musik. solois Individu akan berimprovisasi dalam pengaturan ini. Kemudian, di bebop fokus bergeser ke arah kelompok-kelompok kecil dan pengaturan minimal; melodi (dikenal sebagai kepala “”) akan dinyatakan secara singkat pada awal dan akhir bagian, tapi inti dari kinerja akan menjadi serangkaian improvisasi dalam tengah. Kemudian gaya jazz seperti jazz modal meninggalkan gagasan ketat kemajuan akord, yang memungkinkan individu musisi berimprovisasi bahkan lebih bebas dalam konteks skala tertentu atau mode. avant-garde dan idiom jazz bebas izin, bahkan memanggil, meninggalkan chords, sisik, dan meter berirama.

Telah lama ada perdebatan di komunitas jazz atas definisi dan batas-batas “jazz”. Meskipun perubahan atau transformasi jazz oleh pengaruh baru awalnya sering dikritik sebagai kehinaan “,” Andrew berpendapat Gilbert jazz yang memiliki kemampuan “untuk menyerap dan mengubah pengaruh” dari gaya musik yang beragam. Sementara beberapa penggemar jenis tertentu jazz berpendapat untuk definisi sempit yang mengecualikan berbagai jenis musik juga dikenal sebagai “jazz”, musisi jazz sendiri sering enggan untuk mendefinisikan musik mereka bermain. Duke Ellington menyimpulkan dengan mengatakan, “Ini semua musik.” Beberapa kritikus bahkan menyatakan bahwa musik Ellington bukanlah jazz karena diatur dan mengatur. Pada teman sisi lain Ellington dua puluh solo Earl Hines’s “transformatif versi “komposisi Ellington (pada Earl Hines Dimainkan Duke Ellington dicatat pada tahun 1970) yang dijelaskan oleh Ben Ratliff, New York Times kritikus jazz, seperti” sebagai contoh yang baik dari proses jazz sebagai sesuatu di luar sana “.

Berorientasi komersial atau populer yang dipengaruhi musik jazz bentuk memiliki keduanya lama dikritik, setidaknya sejak munculnya Bop. penggemar jazz tradisional telah diberhentikan Bop, tahun 1970-an jazz [era fusi dan banyak lain] sebagai periode penurunan nilai komersial dari musik. Menurut Bruce Johnson, musik jazz selalu memiliki ketegangan “antara jazz sebagai musik komersial dan bentuk seni” catatan Gilbert itu. Sebagai gagasan tentang kanon jazz adalah berkembang, “prestasi masa lalu” dapat menjadi “… istimewa atas kreativitas istimewa …” dan inovasi seniman saat Village Voice. jazz kritikus Gary Giddins berpendapat bahwa sebagai penciptaan dan penyebaran jazz semakin dilembagakan dan didominasi oleh perusahaan hiburan besar, jazz adalah menghadapi “sebuah. .. masa depan berbahaya kehormatan dan penerimaan tertarik “David Ake. memperingatkan bahwa penciptaan” norma “dalam jazz dan pembentukan tradisi jazz” “mungkin mengecualikan atau sampingan lainnya yang lebih baru, avant-garde bentuk jazz . Kontroversi juga muncul lebih dari bentuk-bentuk baru jazz kontemporer dibuat di luar Amerika Serikat dan berangkat secara signifikan dari gaya Amerika Di satu pandangan mereka merupakan bagian penting dari pengembangan saat ini jazz itu;. di lain mereka kadang-kadang dikritik sebagai penolakan terhadap tradisi jazz penting.
[sunting] Asal kata “Jazz”

Asal-usul dari jazz kata adalah salah satu yang paling dicari asal-usul kata dalam bahasa Inggris Amerika modern. Bunga intrinsik Kata’s – American Dialect Society menamakannya Firman Abad Twentieth – telah menghasilkan penelitian yang cukup besar, dan sejarahnya dengan baik didokumentasikan. Seperti dijelaskan lebih rinci di bawah, jazz dimulai sebagai istilah slang Pantai Barat sekitar tahun 1912, yang berarti yang bervariasi tetapi tidak mengacu pada musik atau seks. Jazz datang berarti musik jazz di Chicago sekitar tahun 1915. Jazz dimainkan di New Orleans sebelum waktu itu, tapi tidak disebut jazz.

Jazz kata membuat salah satu penampilan yang paling awal di San Francisco bisbol menulis pada tahun 1913. “Jazz diperkenalkan ke San Francisco pada 1913 oleh William (Spike) Slattery, olahraga Call editor, dan disebarkan oleh pemimpin-band bernama Seni Hickman itu tercapai. Chicago dengan 1915 namun tidak mendengar di New York sampai setahun kemudian. “Salah satu kegunaan yang dikenal pertama dari kata jazz muncul di 3 Maret 1913, artikel bisbol di San Francisco Bulletin oleh ET “Scoop” Gleeson .
[sunting] Aliran-aliran dalam jazz

* New Orleans jazz
* Big-band/swing
* Bebop
* Ragtime
* Free jazz/avant-garde jazz
* Smooth jazz
* Fusion jazz
* Funk
* Acid jazz

[sunting] Alat musik yang digunakan

* Gitar akustik maupun listrik, Gitar bass
* Piano
* Saksofon
* Terompet
* Trombone
* Biola, biasanya listrik
* Drum

[sunting] Pemusik jazz terkenal

* Louis Armstrong, (1901-1971)
* Duke Ellington, (1899-1974)
* Charlie Parker, (1920-1955)
* Dizzy Gillespie, (1917-1993)
* Miles Davis, (1926-1991)
* John Coltrane (1926-1967)
* Chick Korea
* Ornette Coleman, (lahir 1930)
* Chris Botti
* Dave Koz
* Bob James
* Lee Ritenour

[sunting] Indonesia

* Ireng Maulana
* Buby Chen
* Jack Lesmana
* Bill Saragih
* Benny Likumahua
* Bing Slamet
* Ireng Maulana
* Kibout Maulana
* Dwiki Dharmawan
* Indra Lesmana
* Elfa Secioria
* Iskandarsyah Siregar
* Luluk Purwanto
* Joko W.H.
* Balawan
* Syaharani
* Didi Tjia
* Barry Likumahua
* Band Ecoutez!
* Junior Theodore
* Daniel Alison
* Rudy Kusuma

[sunting] Jerman

1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938) Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

2. Kusbini (1910-1991) pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang
mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

3. Cornel Simanjuntak (1920-1946) pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

4. Ismail Marzuki (19134-1958) prencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini

berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

5. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993) salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lag perjuanga…n ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

6. Liberty Manik (1924-1993) pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

7. Husein Mutahar (1916-2004) pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipe…rsiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang

paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

8. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920) Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra prop…aganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

9. Amir Pasaribu. Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Ind…onesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Paramadharma.

1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938) Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

2. Kusbini (1910-1991) pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang
mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

3. Cornel Simanjuntak (1920-1946) pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

4. Ismail Marzuki (19134-1958) prencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini

berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

5. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993) salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lag perjuanga…n ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

6. Liberty Manik (1924-1993) pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

7. Husein Mutahar (1916-2004) pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipe…rsiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang

paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

8. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920) Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra prop…aganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

9. Amir Pasaribu. Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Ind…onesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Pa adharma.

I. Latar Belakang dan Rumusan Masalah
I .1. Latar Belakang
Dari perjalanan sejarah terlihat bahwa perekembangan musik nasional di Indonesia masa kolonial Belanda 1908-1942 yaitu periode dalam sejarah pergerakan, bersamaan dengan berdirinya Budi Utomo yang berjuang pada awal periode itu disebut sebagai angkatan perintis kemerdekaan masa kolonialisme. Suatu gejala dimana manifestasi musik, dunia para musisi dan sistem budaya diluar dirinya berkaitan secara koheren membentuk sebuah sistem tersendiri. Sistem ini merupakan manifestasi dari adanya perubahan yang terus menerus dalam dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. Munculnya bentuk manifestasi musikal pada perjalanan sejarah musik nasional di Indonesia disebabkan oleh tiga faktor sebagai berikut. Pertama, adalah respon para komponis Indonesia terhadap ideologi politik yang menjadi dasar orientasi kehidupan budaya pada masa itu, guna menentukan identitas musik nasional Indonesia. Kedua, latar belakang etnis dan lingkungan budaya para pencipta musik yang beranekaragam. Ketiga, tingkat kemampuan pribadi dan latar belakang intelektual seorang pencipta itu sendiri. Pada awalnya munculnya komponis abad ke-20 yang telah menggunakan pola kehidupan budaya musik barat sebagai sarana guna mengungkapkan ekspresi musikal muncul pertama kali Soerjopoetro tahun 1916-1917 dengan karyanya ‘Rarjuo Sarojo’ duet vokal dan biola. Materi komposisi diangkat dari sebuah lagu dolanan anak. Melodi vokal dan biola pada prinsifnya sama, tetapi gerakan melodi pada biola diberikan nada-nada hiasan seperti halnya penggarapan unsur rebab dalam karawitan Jawa. Analisisis komposisi karya Soerjopoetro dapat dikatakan sebuah awal upaya untuk menggarap musik tradisional menjadi sebuah garapan komposisi barat dan dapat disimpulkan. Pertama, penggunaan instrumen biola sebagai pengganti rebab. Kedua, penulisan untuk cengkok melodi rebab dilakukan dengan menggunakan sistem notasi musik klasik barat. Ketiga, pola ritme menggunakan tanda birama seperti lazimnya dalam musik barat.
Periode ini merupakan pergaulan yang aktif antara para pemusik lokal dengan pemusik Eropa di Jawa.1 Sekolah-sekolah guru Belanda pada masa H.I.K. dan Kweekschool menjadi tempat para pemusik pribumi belajar musik barat, salah satunya Soerjopoetro seorang priayi Puro Pakualaman.2 Pada masa itu para tokoh-tokoh karawitan di Jawa bertemu dengan para pemusik Eropa yang progresif seperti Walter Spies, Linda Bandara dan Collin Mcphee, serta akhli-akhli teori karawitan Belanda seperti Jaap Kunst dan Brans Buy. Sebagai akibat dari tersedianya pendidikan gaya Eropa kepada priayi Jawa, cendekiawan Jawa meminjam pendekatan cara Eropa untuk studi kebudayaan Jawa. Terkesan dengan gagasan musik karawitan sebagai kesenian luhur, priayi Jawa menggunakan status dan metodologi Eropa untuk memberi penjelasan kesenian mereka. Pandangan priayi Jawa kepada kesenian mereka dalam periode kolonial dan postkolonial menjadi penting dalam pembahasan ini. Pertemuan ini pada gilirannya juga mempunyai dampak penting bagi perkembangan dunia musikologi dan etnomusikologi di Indonesia.
Dalam perjalanan sejarah di Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik Barat kepada abdi dalem Kesultanan Kraton Yogyakarta dan Kasunanan Kraton Surakarta. Tujuannya agar dapat memainkan lagu kebangsaan ‘Wilhelmus’ saat upacara kunjungan tamu resmi pejabat dari negeri Belanda. Pada tanggal 26 mei 1923, terbentuklah tradidisi musik diatonik dikembangkan dengan baik oleh Walter Spies dan beberapa orang Eropa serta seorang Letnan Angkatan Darat Hindia Belanda Dongelman. Sejak itu terjadi hubungan yang bersifat terbuka antara bangsa barat dengan bangsa Indonesia dengan penuh kompromi. Berkembangnya nasionalisme di Indonesia saat itu tidak lagi semata-mata didasarkan atas persamaan-persamaan bersifat primordialisme, diilhami cita-cita kebangkitan nasional tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia mengucapkan ikrar sumpah pemuda, yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Sebagai simbol ikrar teks sumpah pemuda berkumandang lagu ‘Indonesia Raya’ pertama kali yang diciptakan W.R. Supratman. Diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional dan sekaligus diakuinya musik diatonis sebagai musik nasional, disebabkan perlakuan istimewa terhadap lagu ‘Indonesia Raya’ sebagai akibat diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional. Hal ini memicu timbulnya konflik para cendekiawan Jawa yang menginginkan lagu ‘Indonesia Raya’ menggunakan musik khas Jawa melalui instrumen gamelan. Upaya telah dilakukan dengan mencoba para empu gamelan pada tahun 1930-an dengan memodernisir gamelan secara praktek maupun teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Muhamad Yamin, bahwa usaha-usaha memainkan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan gamelan terbukti mengalami kegagalan, oleh karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangganada diatonis, sementara instrumen gamelan memakai sistem tangganada pentatonik.
Pada masa pendudukan Jepang dan Orde Lama 1942-1965, yaitu diawali perjuangan revolusi Indonesia, sebagai angkatan pendobrak hingga pascakolonialisme. Perkembangan musik menjadi isu politik, karena perbedaan pendapat dikalangan para pejuang seniman Indonesia. Perkembangan musik berfungsi sebagai salah satu sarana pendidikan nasional mengalir setelah munculnya generasi penerus sesudah W.R. Supratman dan Mochamad Syafei pendiri INS Kayu Tanam di Sumatera Barat. Di Jawa kenal generasi berikutnya ialah Ismail Marzuki, Kusbini, Bintang Sudibyo, R. Soenarjo, H. Mutahar, R.A.J. Soedjasmin dan lain-lain. Beberapa waktu kemudian muncul pula para pemusik asal Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan dan praktisi musik klasik Barat yang cukup handal. Para pemusik ialah Cornel Simanjuntak, Amir Pasaribu, J.A. Dungga, Liberty Manik, Binsar Sitompul dan W. Lumban Tobing. Gejala ini muncul dari latar belakang lingkungan musik gereja yang merupakan bagian integral dari kebudayaan Barat yang masuk ketanah batak melalui misionaris Jerman.3 Oleh sebab itu dasar musikalitas mereka sudah teruji dan menjadi modal utama yang membentuk mereka dalam lingkungan musisi akademis yang tangguh setelah belajar dan menetap di Jawa, baik sebagai komponis, instrumentalis, kritikus, musikolog maupun etnomusikolog. Saat itu hanya pada masyarakat Tapanuli manifestasi budaya musik klasik barat mendapat tempat pada penghayatan yang paling dalam, terutama pada penghayatan agama. Bagi para komponis dan kritikus musik asal Tapanuli musik klasik barat dan musik kontemporer Indonesia yaitu musik Indonesia Baru adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu ketika pada tahun 1950-an suasana kehidupan budaya masyarakat elit di Indonesia berorientasi ke barat dengan paket ideologi demokrasi liberal dan humanisme, sekelompok pemusik diatonis Tapanuli yang berada dalam kubu ideologi ini merasa memiliki otoritas untuk menentukan kriteria pembentukan genre dan idiom musik nasional yaitu musik diatonis yang mengacu dengan legitimasi penerimaan lagu ‘Indonesia Raya’ sebagai lagu kebangsaan.4 Sementara itu para cendekiawan Jawa pada masa itu sudah berhasil menyelundupkan konsep Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi “Budaya nasional adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah” sesuai Pasal 32 Undang-Undang Dasar 45 dalam kongres kebudayaan kedua di Bandung tahun 1951. Konsep Ki Hadjar Dewantara ini kemudian diterjemahkan oleh Barder Djohan kedalam konteks permasalahan musik nasional yang berbunyi “musik nasional adalah gabungan puncak-puncak musik daerah”. Tentunya tidak usah dipertanyakan lagi bahwa bagi Ki Hadjar Dewantara gamelan Jawa adalah contoh yang paling baik dari sebuah puncak kebudayaan daerah, sebuah musik yang seharusnya dijunjung menjadi bagian dari musik nasional Indonesia mewakili daerah lain. Sebagaimana diketahui bahwa semenjak kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme, masyarakat mulai mencari identitas kebudayaan Indonesia. salah satu tokoh Amir Pasaribu yang berlatar belakang pendidikan musik barat, beliau selalu mengambil unsur-unsur daerah untuk dimasukan kedalam karya-karyanya. Apa yang dikatakan J.A. Dungga tentang Amir Pasaribu dalam usaha mencari pribadi sendiri dalam karya untuk piano sebagai berikut.
“Yang kita maksudkan dengan mencari pribadi sendiri ialah dengan menyesuaikan reportoar musik konser kita atau musik klasik kita dengan bahan-bahan yang ada di dalam bumi kita sendiri. Bagi komponis-komponis kita yang maju sebenarnya bukan hal yang baru, ingat kita misalnya kepada Amir Pasaribu, yang kira-kira sepuluh tahun yang lampau seniman musik kita ini telah mulai mengolah musik-musik yang ada di Priangan dan di desa-desa kita, yang diciptakan untuk piano tunggal dan dimainkan oleh piano ulung kita ibu Sutisno dan yang juga memperkenalkannya untuk pertamakali. Ciptaan-ciptaan Amir Pasaribu tersebut sampai juga dimainkan di radio Paris. Yang kita kenal adalah seuatu “siklus” seperti Variasi Sriwijaya, Ole-ole Meloyo-loyo, Indihyang, Tjikapundung dan ada beberapa dengan nama Perancis seperti Clair de Lune, Suite Villageoise dengan pengaruh-pengaruh Debussy”.

Memang bila dianalisis dari karya-karya pianonya, Amir pasaribu telah melakukan akulturasi budaya timur dan barat. Sebagai seorang komposer ia sangat disegani di tanah air. Menurut pendapat Dr. L. Manik bila dibandingkan dengan C. Simanjuntak, Amir Pasaribu telah melangkah lebih maju dalam teknik komposisi.
Pada tahap berikutnya pertentangan antara diatonis dan pentatonis tetap berlanjut, akhirnya tanpa dielakan menciptakan dua kubu konfrontatif dalam perkembangan musik nasional, yakni kubu yang berangkat dari latar belakang musik tradisional atau kubu pentatonis dan kubu yang berangkat dari latar belakang musik barat atau kubu diatonis. Keterpisahan kedua kubu ini pada masa itu semakin dipertegas dengan berdirinya dua buah lembaga pendidikan musik formal, yakni Konservatori Karawitan (KOKAR) tahun 1952 di Surakarta dan Musyawarat Musik Indonesia (MMI) tahun 1953 di Yogyakarta, dengan pimpinan dan para tokohnya R.A.J Soedjasmin, Amir Pasaribu. J.A. Dungga yang mengajarkan musik klasik barat. Pada KOKAR akhirnya pemerintah meletakan agenda lahirnya musik nasional yang berakar pada musik daerah. Konflik ini kemudian semakin keruh dengan munculnya sekelompok seniman yang mengimpor ideologi lain dalam mencari identitas budaya nasional. Kelompok yang kemudian mendirikan organisasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ini mengambil ideologi kerakyatan sebagai landasan nasionalisme mereka.5 Periode ini juga memproses munculnya generasi komponis baru yang kemudian melakukan babak transformasi lagi dalam dunia musik kontemporer. Pertentangan ideologis yang semula berorientasi pada masalah musikal yang instrinsik, seperti tangganada diatonis-pentatonis atau genre musik karawitan akademis bergeser menjadi pertentangan masalah yang entrisik, yakni peran kreatifitas musik dalam merekayasa sebuah transformasi budaya yang didasarkan atas ideologi politik tertentu itu adalah ideologi kerakyatan yang anti kolonialisme dan imprelialisme, serta kepribadian nasional.6
Dalam kedua kubu musik diatonis dan pentatonis itu sendiri ketika itu muncul komponis yang berpijak pada ideologi baru tersebut. Dalam dunia pentatonis ditandai munculnya gendhing-gendhing mutakhir dengan teks mengacu pada ideologi politik masa pemerintahan Soekarno. Beberapa dari gendhing juga menggarap eksperimentasi yang menarik dari unsur gamelan itu sendiri. Sementara dikubu musik diatonis juga muncul musik-musik yang berbau kerakyatan. Para pemusik yang bergabung dengan Lekra pada masa itu banyak menciptakan musik vokal dengan teks yang berkiblat pada ideologi realisme sosialis dan rezim Soekarno. Beberapa dari teks mini diangkat oleh para penyair Lekra. Karya-karya para pemusik pada masa itu diterbitkan dalam bentuk partitur atau dalam media massa yang menjadi wadah ideologi pemikiran budaya Lekra semacam propaganda politik.
Munculnya ideologi baru ini agaknya memaksa para pemusik diatonis yang berpihak pada kelompok penganut paham humanisme universal untuk mengarahkan juga kritiknya kepada rekannya. Pada awal dekade 1960-an, konflik baru ini telah membuat para seniman menjadi lebih sibuk berpolitik ketimbang berkesenian. Gejala ini semakin tajam ketika sekelompok seniman anti Lekra memproklamirkan manifes kebudayaan. Binsar Sitompul turut berperan sebagai seorang yang menetang sikap politik Lekra dan LKN serta menyerukan agar asas kehidupan budaya masyarakat Indonesia dikembalikan kepada Pancasila.7 Dengan kata lain kedua kubu besar seniman, budayawan ini akhirnya terperangkap dalam kancah pergaulan politik praktis dengan segala taktik strategi guna memperjuangkan sebuah gagasan dan cita-cita besar, yakni revolusi kebudayaan. Puncak pergulatan ini terjadi manakala meletus peristiwa G-30-S PKI, mengakhiri segala drama politik di dunia kesenian dan meninggalkan sebuah trauma yang dalam bagi kedua belajh pihak. Komponis yang terlibat dalam Lekra sempat mengalami masa tahanan di pulau Buru.
Masa orde baru 1966 sampai kini, yaitu dengan padamnya konflik ideologi realisme sosialis versus humanisme universal. Perkembangan musik nasional di Indonesia pada dekade 1970-an kembali berhadapan dengan problematik yang semula terdapat kesenjangan antara dunia musik diatonik-pentatonik ini tetap keadaannya merisaukan para pemusik dari generasi 1960-an. Frans Haryadi generasi saat itu merasa prihatin dengan permasalahan ini. Posisinya sebagai seorang komponis dan etnomusikolog, yang juga berkecimpung didunia musik tradisional, mengambil sikap netral ia merasa bahwa jurang pemisah kedua kubu tersebut perlu dijembatani. Frans Haryadi berharap akan lahir dialog yang lebih sehat dan produktif diantara kedua kubu yang berseberangan dan peran itu seharusnya dijalankan oleh seorang komponis. Dalam tulisan pengantar dan laporan sayembara komposisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1974 ia berkata.
“Dulu sebagian pencinta musik mengungkapkan ide-idenya melalui media bahasa tradisi musik warisan nenek moyang, sebagian lain melalui media bahasa musik barat. Kita tidak menginginkan kedua bahasa musik itu dapat dipadu dalam waktu singkat, kecuali perpaduan melalui suatu proses yang berjalan secara alamiah dan memakan waktu lama. Maka dalam proses itulah para pencipta musik akan memegang peranan utama sebagai perintis jalan baru, yang gagasannya terarah kepada diri masing-masing. Hasil-hasil ciptaan mereka akan membuat suatu tradisi musik baru, juga menghidupkan kontinunitas perkembangan musik”.8

Gagasan dan cita-cita Frans Haryadi ini akhirnya menjadi sebuah kenyataan ketika pada akhir dekade 1970-an beberapa komponis dari dunia pentatonis menggarap karya-karya mereka dengan kredo instrumen sebagai sumber bunyi. Dengan kredo ini dilema pentatonis-diatonis dengan sendirinya dapat dipecahkan. Para komponis ini tidak lagi memusatkan kekuatan musiknya pada tangganada, akan tetapi lebih kepada warna suara yang digali dari segala macam kemungkinan bentuk dan materi instrumen. Komponis dengan latar belakang karawitan tradisional yang menggarap karya-karyanya dengan menerapkan konsep ini secara radikal yang luar biasa adalah A.L. Suwardi salah satu tokoh musik dari ASKI Surakarta. Pada pengantar karyanya sebuah proses yang dipentaskan dalam Pekan Komponis Muda 1984 Suwardi menulis.
“Penjajagan bunyi dalam rangka mencari kemungkinan kemampuan alat sumber bunyi dalam rangka mencari kemungkinan kemampuan alat sumber bunyi sebagai alat ungkap, bagi kami merupakan peristiwa atau proses yang menarik. Kali ini kami sajikan proses itu sendiri sebagai komposisi”9.

Sementara itu dari pihak komponis diatonis generasi 1970-an juga muncul para komponis yang menggarap karyanya dengan memanfaatkan insrumen tradisional dan pendekatan estetika yang justru berangkat dari konsep tradisional. Diantaranya Harry Roesli, Guruh Soekarnoputra, Embie C. Noer, Marusya Nainggolan, Otto Sidharta, Tony Prabowo, Michael Asmara, Sapto Rahardjo, Ben Pasaribu, Sutanto dan Frankie Raden. Dalam proses penciptaan sebagian dari mereka melibatkan orang-orang tradisi sehingga bisa dikatakan sebuah karya koloborasi yang mampu menampung kreativitas para pemain dalam idiom musik tradisi.
Pendekatan lintas budaya ini secara konsisten dilakukan oleh para komponis generasi 1970-an yang disebut tadi. Konsep gotong royong yang merupakan unsur spesifik dalam sistem budaya musik tradisional ini masih tetap dipertahankan oleh para komponis yang berangkat dari latar belakang musik tradisional. Meskipun nama-nama seperti A.L. Suwardi, Rahayu Supanggah, Pande Made Sukerta, I Wayan Sadra, muncul sebagai seorang komponis, karya mereka umumnya mengandalkan garapan kolektif dimana kreativitas para pemain sangat menentukan bentuk akhir dari karya tersebut10. Dalam kesempatan lain, bentuk yang unik dan sangat menarik dari sebuah prinsif dialogis yang lain muncul melalui aktifitas musikal salah seorang tokoh musik kontemporer Indonesia dewasa ini, yakni Sutanto dari AMI Yogyakarta yang berdiam di desa Mendut dekat Candi Borobudur. Pilihan tempat tingggal dilingkungan pedesaan yang mencerminkan kehidupan sebuah komunitas adalah pilihan yang ia sadari. Sejak penampilannya dalam Pekan Komponis Muda I tahun 1979 Sutanto telah menunjukan kecenderungannya untuk alternatif kearah itu. Pada pengantar karyanya berjudul ‘Sketsa Ide’ ia menulis.
“Pendidikan dasar musik yang tampak kabur dan tidak berangkat dari akar dan tempat berpijak yang benar. Usaha penyusun untuk mengkaitkan musik dengan industri kerajianan rakyat sebagai alat-alat bunyi komposisinya. Kemudian pikiran-pikiran menuju budaya tempat kalau mungkin, dan tentunya menambah medium musik yang sudah ada dengan materi yang semoga relatif segar”11.

Modus ekspresi yang selalu muncul dalam bentuk kerjasama dengan orang-orang desa setempat adalah realisasi dari konsep berkesenian yang ia jalani secara konsisten sejak meninggalkan dunia akademis di tahun 1979. Oleh sebab itu karya-karya yang lahir dari konsep kerjanya ini menawarkan sebuah alternatif menarik bagi perkembangan dunia musik kontemporer Indonesia yang mengakar pada sebuah komunitas.
Analisis yang dipakai dalam penelitian ini memakai teori budaya konsep Trikon, Ki Hadjar Dewantara dan akulturasi yang merupakan salah satu pemikiran tentang kebudayaan untuk kemajuan bagi perkembangan budaya, maka diperlukan hubungan dengan budaya-budaya lain. Mengambil segala bahan kebudayaan dari luar yang dapat mengembangkan dan memperkaya budaya sendiri yang sudah ada. Meski demikian ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih unsur-unsur budaya mana yang perlu, mana yang tidak perlu, mana yang baik, dan mana yang buruk dan disesuaikan dengan perekembangan zaman.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara diujudkan dalam konsep triloginya yang terkenal dengan nama “Trikon”12. Konsep ini merupakan hasil ramuan berdasarkan pengamatannya tentang budaya timur dan barat dan Trikon pengertiannya sebagai berikut.
Kontinyu : Menuju dengan alam budaya sendiri.
Konvergen : Berbaur dengan alam budaya diluarnya, untuk menuju
Konsentris :Hasil persatuan dari kedua alam budaya, namun kepribadian alam budaya sendiri masih ada.

Kontinyu Konsentris Konvergen

Makna dari konsep Trikon adalah, hendaknya kita menghubungi budaya luhur bangsa Indonesia (kontinyu) dan menyeleksi datangnya budaya luar dengan memberikan kemungkinan berpadunya budaya bangsa dengan budaya luar (konvergen) menuju terjadinya budaya baru yang lebih baik (konsentris). Ada beberapa contoh yang diberikan oleh Ki Hadjar Dewantara mengenai implementasi dari konsep Trikon beberapa diantaranya sebagai berikut.
a. Teori nasi goreng13. : Bahan nasi berasal dari daerah sendiri, dimasak dengan mentega dan keju yang berasal dari barat. Menurut Ki Hadjar Dewantara dimana perlu boleh mengambil bahan-bahan dari luar asalkan diolah, dijadikan masakan baru yang lezat dan sehat. Bahan pokok dari diri sendiri yang ditekankan Ki Hadjar Dewantara, bahan inilah yang paling penting, setelah itu barulah ditambah, diubah atau dikurangi.
b. Timur dan barat14. : Istilah ini mulai mencuat ketika terjadi polemik kebudayaan sekitar tahun 1930-an. Menurut Ki Hadjar Dewantara, barat lebih mementingkan intelektualisme, individualisme dan materialisme. Sebaliknya meski demikian Ki Hadjar Dewantara tidak pantang mengambil gagasan cara berfikir barat.
Konsep Trikon yang diterapkan pada pembangunan budaya bangsa, pendidikan dalam keluarga sebagai unsur kecil dari masyarakat adalah sebagai berikut.
a. Kebudayaan nasional : Pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebuadayaan daerah diseluruh nusantara baik yang lama maupun yang baru. Puncak-puncak dan sari-sari tersebut diperoleh dari hasil konsep Trikon. Saat ini konsep tersebut justru sangat nyata, antara lain dalam mode pakaian. Kebaya model Jawa tengah, tetapi kain model sarung Sumatera yang dapat dijadikan industri mode Indonesia masa kini15.
b. Ing ngarso sung tuladha – ing madya mangun karsa – tut wuri andayani: yaitu dimuka memberi teladan – di tengah membangun semangat – di belakang mempengaruhi adalah sifat dan sikap pemimpin yang dikehendaki Ki Hadjar Dewantara beda dengan barat
Istilah akulturasi atau acculturation sebenarnya mempunyai banyak arti. Proses akulturasi sudah ada sejak dalam sejarah kebudayaan manusia, akan tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat khusus, baru muncul ketika kebudayaan-kebuadayaan barat mulai menyebar kesemua daerah dimuka bumi, dan mempengaruhi masyarakat suku-suku bangsa termasuk penjajahan. Akulturasi terjadi apabila terdapat dua kebudayaan atau lebih yang berbeda sama sekali (asing dan asli) berpadu sehingga proses-proses ataupaun penebaran kebudayaan asing secara lambat laun diolah sedemikian rupa kedalam kebudayaan asli dengan tidak menghilangkan identitas maupun keasliannya16. Beberapa catatan penting tentang masalah akulturasi yang menjadi pembahasan dalam topik ini17.
a. Metode-metode untuk mengobservasi, mencatat dan melukiskan suatu proses akulturasi dalam suatu masyarakat.
b. Unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah dan yang sulit diterima ke dalam masyarakat penerima.
c. Unsur-unsur kebudayaan yang mudah diganti oleh unsur-unsur kebudayaan asing.
d. Individu-individu yang dapat dan cepat menerima dan yang sulit dan lambat menerima unsur-unsur kebudayaan asing.
e. Ketegangan-ketegangan dan krisis sosial akibat akulturasi.
Masalah yang menyangkut metode untuk observasi atau metodologi didalam penelitiannya menggunakan metode tiga kolom (three coloum method). Brosnilaw Malinowski (polandia 1884-1942) memakai tiga kolom. Penerapan metode tiga kolom ini ialah, kolom pertama merupakan sipeneliti mencatat keadaan masyarakat didaerah penelitian sebelum kedatangan bangsa barat sebagai pembicaraan luar. Lalu disusul dengan uraian keadaan masyarakat dari pada waktu mulai terjadi kontak dengan orang-orang dan unsur-unsur kebudayaan asing. Dalam hal ini dijadikan bagian atau kolom kedua. Kemudian keadaan masyarakat sasaran penelitian yang terakhir, yaitu adanya proses-proses lanjutan sebagai akibat perhubungan-perhubungan dengan pendatang tadi ditulis dalam kolom tiga. Jadi sebenarnya metode tiga kolom ini merupakan metode sejarah dari serentetan peristiwa proses-proses dalam akulturasi yang terjadi disesuatu masyarakat daerah tertentu18.
Akulturasi sebagai salah satu dari pergerakan budaya, sampai saat ini disadari ataupun tidak oleh masyarakatnya terus berlangsung sesuai dengan gerak dinamika kehidupan alam dan jaman. Proses dalam peristiwa kontak kebudayaan atau akulturasi ini dapat menimbulkan beberapa masalah baik yang berupa positif maupun negatif. Semua hal tersebut kembali tergantung kepada masyarakat, bagaimana ia dapat mengendalikan dan mengolah kebudayaannya.
Hal-hal yang menjadi dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang akulturasi yang dikemukakan sekitar tahun1920 sampai dengan tahun 1950-an sebenarnya juga mempunyai maksud yang sama dengan apa yang ditulis oleh para ahli baik dari barat seperti Herskoviits, Beals, Broom maupun dari Indonesia sendiri seperti Koentjaraningrat. Hanya saja Ki Hadjar Dewantara mengupasnya secara simpel atau praktis meski demikian tidak mengurangi nilai substansinya. Semua pengalaman Ki Hadjar dewantara dalam menyerap kebudayaan timur dan barat yang ia lami, kemudian dituangkan kedalam konsep Trikon, dan konsep ini masih relevan dan dapat dianalogikan kesemua unsur budaya.
1.2. Rumusan Masalah
Agar usulan penelitian disertasi ini dapat lebih efektif, berikut ini disajikan beberapa perumusan masalah.
a. Bagaimana cara pendekatan untuk mendudukan tentang persoalan musik nasional sesuai konsep trilogi ajaran Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan perkembangan saat ini.
b. Bagaimana cara pendekatan profesional dan proposional mengenai fungsi musik nasional ditinjau dari latar belakang musik pentatonik dan diatonis sebagai akibat pengaruh budaya barat manfaatnya bagi keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
c. Bagaimana agar kedua disiplin musik pentatonik dan diatonik bisa hidup berdampingan secara harmonis satu dengan lainnya agar tidak timbul konflik dan perpecahan tetapi saling memperkaya bagi perkembangan kihasanah budaya Indonesia masa kini.

3. LAGU MAJU TAK GENTAR

4. LAGU HALLO-HALLO BANDUNG

1. LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA

2. LAGU BAGIMU NEGRI

k

Dapat disimpulkan dari hasil penelitan lagu perjuangan sebagai lagu wajib nasional berdasarkan ketetapan pemerintah tahun 1959, bertujuan untuk di ajarkan dalam pendidikan nasional, di seluruh tanah air agar diketahui oleh masyarakat Indonesia sebagai wawasan kebangsaan, nasionalisme, patriotisme untuk meningkatkan serta membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa negara Republik Indonesia, yaitu sebagai berikut.
1. Lagu-lagu perjuangan yang diciptakan para komponis Indonesia adalah ekspresi dari perasaan pejuang, melalui ungkapan suara rasa kebangsaan, nasionalisme, dan persatuan, yang dapat dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, melodi diciptakan dengan pola sederhana agar mudah dinyanyikan oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Kedua, teks syair menggunakan bahasa Indonesia, agar dapat dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai kebinekaannya. Ketiga, Munculnya serta perubahan yang terjadi pada lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah akibat adanya tekanan dari kaum penjajah serta timbulnya perubahan situasi yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat pada masa revolusi tahun 1945-1949, dan perang kemerdekaan di Indonesia.
2. Makna yang terkandung pada lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dan lagu ‘Bagimu Negri’, memiliki makna khusus dibandingkan dengan lagu ‘Maju tak gentar’ dan ‘Hallo-hallo Bandung’ yang erat kaitannya dalam peristiwa revolusi. Pada tahun 1945 Sukarno memerintahkan para komponis Indonesia untuk menyelenggarakan upacara dan aubade dengan memanfaatkan lagu-lagu perjuangan Indonesia sesuai dengan fungsinya. Untuk memaknai hasil perjuangan bangsa, maka lagu-lagu tersebut oleh pemerintah ditetapkan sebagai lagu nasional berdasarkan keputusan Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan no. 1 tanggal 17 Agustus 1959, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1963. Anjuran itu sampai saat ini masih tetap dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk dilestarikan dan di pakai pada upacara kenegaraan dan puncak peringatan hari besar nasional.
3. Fungsi seni pertunjukan bersifat primer dan fungsi seni pertunjukan bersifat sekunder, sehubungan dengan keberadaan fungsi lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Fungsi primer lagu upacara bersifat konstruktif sebagai perasaan nasional adalah ketetapan yang diberlakukan pemerintah Republik Indonesia sampai saat ini, digunakan membangun bangsa masa kini dan masa depan, dilaksanakan dalam posisi berdiri tegak ditempat. Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ wajib dikumandangkan, dalam pembukaan upacara bersifat kenegaraan seperti dalam bentuk kegiatan organisasi kemasyarakatan, pendidikan, organisasi sosial politik maupun dalam sidang umum paripurna MPR dan DPR. Fungsi lagu ‘Bagimu Negri’ sebagai lagu kedua, ditetapkan mengiringi acara simbolis pelantikan pejabat negara sebagai tanda sumpah bakti kepada nusa bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Kedua lagu tersebut diatas usianya lebih tua dibandingkan dengan lagu-lagu perjuangan lainnya, karena lagu jenis ini diciptakan sebelum masa revolusi di Indonesia, bahkan peranannya sangat penting pada masa revolusi dan perang kemerdekaan.
b. Fungsi sekunder lagu perjuangan bersifat membangun semangat solidaritas bangsa cinta tanah air, diperdengarkan dalam prosesi berjalan dengan bentuk barisan yang rapih serta langkah penuh semangat. Lagu ‘Maju tak gentar’ dikumandangkan oleh Angkatan Pemuda Indonesia (API) melawan pendudukan Inggris dan Belanda di Jakarta pada tahun 1945. Kemudian pada tahun 1946 berfungsi membangkitkan semangat Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP) melawan tentara Belanda di Yogyakarta.
Saat ini lagu ‘Maju tak gentar’ berfungsi sebagai musik aubade mengiringi prosesi berjalan barisan peserta upacara hari besar nasional atau parade musik militer HUT TNI ke55 pada tanggal 5 Oktober 2001 di Alun-alun Keraton Yogyakarta, perayaan HUT KOSTRAD pada tanggal 7 Maret 2001 di Jakarta, dan peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan R.I. ke 56 di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Berbagai pergelaran seni pertunjukan diselenggarakan memperingati gugurnya Cornel Simandjuntak berlangsung pada tanggal 15 September 1992 oleh paguyuban Simandjuntak Jakarta Raya dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pergelaran Malam Tanah Tumpah Darahku di RRI Yogyakarta ditampilkan Paduan Suara UGM dan konser orkes simponi mahasiswa ISI Yogyakarta. Pertunjukan mengenang Cornel Simandjuntak diselenggarakan pula tanggal 15 September 1994 oleh penampilan Paduan Suara Svara Nubari di gedung Societed Yogya.
Lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ digunakan untuk mengingatkan peristiwa Bandung lautan api, dan sandi operasi Tentara Republik Indonesia (TRI) di Bandung. Pada waktu itu kedudukan tentara Sekutu telah menguasai kota Bandung sebagai pertahanan militer Belanda. Lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ tetap diperdengarkan setiap tanggal 23 Maret dalam mengiringi prosesi Long mars pemuda, mengenang semangat jiwa kepahlawanan Bandung rebut kembali.
Kedua lagu tersebut saat ini masih tetap relevan ditengah-tengah masyarakat Indonesia untuk membangkitkan perrjuangan semangat etos kerja, pemahaman idealisme, ketekunan, keuletan para pemuda untuk belajar dan bekerja, kegigihan, serta keberanian melawan ketidak adilan dalam rangka menghadapi tantangan dimasa depan demi tegaknya pembangunan mental spiritual guna menumbuhkan sumber daya manusia di era globalisasi masa kini.

A. Fungsi Konstruktif Pada Lagu Upacara
Konstruktif berasal dari bahasa Latin Constuere artinya menyusun atau membangun. Dasar-dasar bersifat konstruktif di dalam suatu gerakan masyarakat Indonesia, ialah usaha untuk merealisasikan tindakan, perasaan, dan keinginannya dalam bentuk membangun negara. Dalam tindakan dapat diwujudkan melalui suatu perjuangan diplomasi di forum Internasional mengenai kedaulatan negara, perjuangan diplomasi di meja perundingan masa penjajahan, kerja bakti, gotong royong adalah tindakan konstruktif untuk negara. Sedang untuk manifestasi dari perasaan diwujudkan melalui tanda (simbol) sangsaka merah putih, lagu perjuangan dan lain sebagainya. Tanda-tanda ini sekaligus dapat mewujudkan tujuan, menimbulkan rasa setiakawan serta mempertebal rasa persatuan dan kesatuan. Dapat pula simbol-simbol tesebut memberikan doktrin tentang tanda-tanda yang formal ke dalam bentuk ekspresi seni yang menimbulkan rasa puas terhadap gerakan moral bangsa Indonesia. Secara tidak langsung memperkenalkan gerakan tersebut sebagai gerakan perjuangan. Fungsi konstruktif lagu upacara ialah kegunaan lagu sebagai simbol rasa nasionalisme berisi pesan pembangunan untuk mencapai kemerdekaan, yang mendapat tantangan hambatan dari pemerintah penjajahan, dan secara umum telah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Di dalam perkembangannya lagu ini dipakai sebagai sarana upacara kenegaraan, merupakan bagian integral masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari budaya bangsa Indonesia. Lagu ini diciptakan di masa penjajahan sebelum revolusi, kemudian peranannya sangat penting setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Digelorakan oleh para pemuda Indonesia dalam acara seremonial dan menjadi bagian penting dari simbol penghormatan pada lambang negara dan sumpah bakti kepada negara Republik Indonesia yang dinyanyikan sebagai perasaan nasional dengan posisi berdiri ditempat, dalam pertemuan rapat para pemuda pejuang, atau suatu perkumpulan organisasi gerakan konstruktif, guna memotivasi cita-cita kemerdekaan untuk membangun nasib bangsa di masa depan1. Makna simbol bersifat upacara tersebut diatas dirasakan sebagai kekuatan yang mampu mempengaruhi setiap individu atau kelompok yang dapat merubah situasi keadan yang pesimis menjadi suatu sikap yang optimis, serta mampu menggerakan keinginan yang positif menjadi perbuatan yang konstruktif2.
Menurut R.M. Soedarsono seni pertunjukan bersifat upacara secara garis besar memiliki ciri-ciri yaitu. (1) Diperlukan pemilihan tempat yang dianggap sakral seperti di gedung Indonesische Club Keramat 106 Jakarta sebagai tempat bersejarah kongres pemuda Indonesia. (2) Diperlukan pemilihan hari serta saat yang tepat lagu itu diperdengarkan yaitu pada hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928, dan upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. (3) Tujuan lebih diutamakan dari pada penampilan estetis3. Seperti telah dikemukakan bahwa fungsi primer lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai sarana upacara dimana kedudukan pemain serta peserta didalam seni pertunjukan tersebut harus dilibati, hingga seni pertunjukan jenis ini dapat disebut Art of participation4. Dalam komunikasi lagu perjuangan digunakan sebagai simbol upacara kenegaraan dapat pula disebut Magnetic song. Peranan lagu sebagai perasaan nasional, sengaja diciptakan untuk dapat menimbulkan suatu dorongan sehingga komunikan tertarik mengikuti pesan dari komunikator. Sebagai analogi, komponis adalah seorang komunikator peranan musik digunakan sebagai media pesan kepada komunikan yang menjadi peserta upacara. Lirik sebagai wujud ungkapan yang disusun secara
terpadu untuk menggugah perasaan tertentu, dipadu dalam ritme, irama, melodi, secara umum dapat dimengerti masyarakat. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan Lagu “Bagimu Negri” diciptakan pada saat sebelum terjadi masa revolusi dan perang kemerdekaan di Indonesia. Kedua lagu tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan gaya nasional eksotisme dalam sejarah lagu-lagu perjuangan di Indonesia, antara ciri-ciri dari irama mars yang membangkitkan susana semangat patriotisme dengan lagu himne yang menimbulkan suasana tenang dan khitmad, suatu pemujaan kepada tanah air. Lagu-lagu tersebut selain menguraikan suatu kondisi tertentu juga berisikan daya tarik yang sedemikian kuatnya, hingga setiap rakyat Indonesia menyanyikan lagu ini merasa sadar akan dirinya sebagai bangsa yang merdeka. Daya tariknya seperti besi magnet terasa seperti sesuatu yang sangat kuat dalam diri, bahkan tidak jarang orang yang menyanyikan lagu ini dapat mengeluarkan air mata, karena perasaan haru serta bangga akan keagungan lagu tersebut5. Untuk mengetahui uraian secara rinci tentang fungsi konstruktif lagu perjuangan Indonesia secara analisis dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ Lagu “Kebangsaan Indonesia Raya” asal mulanya adalah sebagai lagu perjuangan yang kemudian diangkat menjadi lagu kebangsaan. Tujuan yang bersifat upacara lebih ditonjolkan dari pada penampilan secara estetis, hal ini dimaksudkan lagu kebangsaan suatu negara sebagai acara seremonial, tidak selalu harus memenuhi persyaratan teknik komposisi musik yang sempurna seperti karya musik Simponi. Selain itu kedudukan lagu kebangsaan yang penting adalah maknanya, contohnya pada syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ternyata dapat membangkitkan suatu rasa dekat dengan cita-cita yang tinggi dan luhur sebagai perasaan nasional. Menurut akhli ilmu jiwa sosial mengatakan bagaimanapun lemahnya lagu kebangsaan ditinjau dari komposisi musik tetapi daya tariknya mampu membangkitkan semangat, dan dapat menempatkan peranan lagu tersebut pada kedudukan yang khusus, terutama makna yang terkandung dalam lirik lagu tersebut6. Sebagai seorang patriot Supratman yakin dimasa depan
perjuangan Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya pasti akan tercapai. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sebelumnya sudah
diperdengarkan di berbagai rapat dan pertemuan di Gang Kenari, tetapi waktu itu belum ada tanggapan dari masyarakat. Melalui proses sosialisasi lagu kebangsaan, Supratman kemudian memperlihatkan lagu ciptaannya kepada sahabatnya Sugondo Joyopuspito, A. Sigit Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (Prof. Drs A. Sigit mahaguru UGM Yogyakarta), dan Mononutu. Setelah mempelajari makna yang terkandung dalam syair lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, mereka berpendapat bahwa ciptaan W.R. Supratman dapat diterima sebagai lagu kebangsaan. Sebagai lagu perjuangan bangsa yang bersifat upacara sikap hormat dengan berdiri tegak saat diperdengarkan, telah menunjukan bahwa lagu tersebut sudah dapat dinilai sebagai lagu kebangsaan. Bagi setiap warga negara Indonesia yang terlibat dalam upacara diwajibkan sikap dalam berdiri tegak pandangan mata kedepan. Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ hanya diperdengarkan pada hari tertentu serta pada peristiwa yang penting saja, ternyata keputusan secara sepontan tidak tertulis aturan yang memberlakukan sikap hormat pada lagu, akhirnya diikuti segenap anggota organisasi politik, organisasi sosial dan masyarakat umum, berfungsi sebagai penghormatan terhadap lambang negara.7 Fungsi lagu kebangsaan
‘Indonesia Raya’ dimasa pemerintahan kolonial Belanda penggunaannya semakin luas dikalangan masyarakat hingga dibenak pegawai negeri, para guru, pamong praja, termasuk pada kalangan serdadu yang berdinas dalam KNIL.8 Sejumlah kalangan pegawai negeri yang ditugaskan mengawasi jalannya suatu rapat pertemuan kaum pergerakan seringkali ikut berdiri ketika lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ diperdengarkan. Akhirnya pemerintah
Belanda membuat surat edaran dengan menyatakan bahwa pegawai negeri yang ditugaskan harus bersikap netral, dan tidak diperkenankan berdiri apa bila lagu itu diperdengarkan, sebab lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ bagi pemerintah dianggap sebagai lagu suatu perkumpulan (Club lied).9 Pemerintah Belanda tidak pernah berhasil membungkam lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, lagu ini terus berkumandang di daerah gerilya, dalam rumah tahanan pejuang Indonesia yang dikusai Belanda, bahkan para mahasiswa diluar negeri sudah mengangap lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan.10